Kamis, 26 Februari 2015
Yesus kebangkitan yg hidup
Selasa, 24 Februari 2015
MENGANDALKAN KETAATAN KRISTUS
Bacaan: Matius 5:38-48 Akan tetapi, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita. (Roma 5:8)
Ketika kita diminta mendonorkan darah, mungkinkah kita sekaligus mendonorkan ginjal? Ketika seseorang menuntut mobil kita, mungkinkan kita menyerahkan sekaligus rumah kita? Ketika seseorang membunuh anak kita, mungkinkah kita mengampuninya dan menjadikannya anak angkat? Itu beberapa skenario yang melintas dalam benak saya saat membaca bagian dari Khotbah di Bukit ini. Dalam rangkaian khotbah tersebut, saya merasa Yesus sedang menaikkan standar hukum Allah setinggi-tingginya. Dengan harapan, orang yang sungguh-sungguh hendak taat tersadar, tidak mungkin ia menjalaninya dengan kemampuan dirinya sebagai manusia. Kabar gembiranya, Yesus datang untuk menggenapi hukum itu bagi kita (Rm 10:4). Dalam nas hari ini, misalnya, Dia seperti orang yang menyerahkan pipi kirinya pada yang menampar pipi kanannya, orang yang menyerahkan jubah pada yang mengingini bajunya, dan orang yang berjalan sejauh dua mil ketika dipaksa berjalan sejauh satu mil. Itulah karya Kristus bagi kita! Dan, melalui ketaatan-Nya itu, Kristus menjadi pokok keselamatan bagi orang yang beriman. Jadi, pertanyaan kita bukan lagi: Mampukah saya menaati hukum Allah? Pertanyaannya adalah: Maukah saya beriman kepada Kristus Yesus dan menerima pembenaran-Nya? Maukah saya berhenti mengandalkan kemampuan diri dalam menaati hukum Allah, dan belajar mengandalkan ketaatan-Nya yang sempurna? Bersediakah saya mempersilakan Kristus menyatakan kehidupan-Nya di dalam dan melalui diri saya?
Pesannya : KESELAMATAN BUKANLAH BERDASARKAN KETAATAN KITA, MELAINKAN BERDASARKAN KETAATAN KRISTUS YANG SEMPURNA.
Kamis, 12 Februari 2015
DIA TAK LUPA!
Bacaan: Kejadian 40 Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya. (Kejadian 40:23)
Adik saya gembira dua kali lipat: diterima di sekolah Akitab idaman dan ada orang yang bersedia menanggung biaya studinya. Ia mengikuti kuliah dengan penuh semangat, tapi hingga bulan pertama berlalu ternyata beasiswa yang dijanjikan itu belum muncul. Ah, mungkin beliau amat sibuk, pikirnya. Namun, bulan-bulan berikutnya ternyata tak ada perubahan. Konyolnya, ketika mereka berjumpa, orang itu sama sekali tak menyinggung soal beasiswa itu! Pupuslah harapannya. Akhirnya, sang kakak yang membiayai kuliahnya sampai selesai. Orang cenderung mudah berjanji, mudah pula melupakannya. Bukan hanya dalam kasus berat seperti yang dialami Yusuf, juga dalam hal-hal sepele. Dalam hal Yusuf, syukurlah, akhirnya kepala juru minuman itu ingat lagi padanya (lihat 41:9-13) sehingga Yusuf bisa menikmati kebebasannya lagi, dan mulai menapaki keberhasilannya sebagai tangan kanan Firaun. Nah, apakah Tuhan melupakan Yusuf? Tidak. Saat Yusuf masih menjadi pegawai Potifar, tercatat empat kali ia "disertai Tuhan" (lihat 39:2, 3, 21, dan 23). Tatkala bani Israel ditindas bangsa Mesir, Allah ingat janji-Nya pada nenek moyang mereka (Keluaran 2:24, 6:4b), dan Dia bertindak! (Simak kata kerja "membebaskan", "melepaskan", "menebus", "membawa", dan "memberikan", Kel 6:5-7). Perempuan bisa saja melupakan bayinya, tetapi Dia tidak pernah melupakannya (Yes 49:15). Kalau Dia seakan tidak segera menolong kita, itu karena "waktu-Nya" dan "waktu kita" berbeda (2 Pet 3:8), bukan?
Pesan : DIA SELALU MENDENGAR, DAN PASTI MENOLONG, SESUAI DENGAN WAKTU DAN KEBIJAKSANAAN-NYA.
Rabu, 04 Februari 2015
RAJA KOK INFANTILE?
Read: 1 Raja-raja 21:1-19
“Lalu masuklah Ahab ke
dalam istananya dengan kesal
hati... Maka berbaringlah ia
di tempat tidurnya dan
menelungkupkan mukanya
dan tidak mau makan. (1
Raja-raja 21:4)”
Bible in a year: Imamat 9-10
Infantile adalah istilah Bahasa
Prancis yang artinya adalah
kenakan-kanakan. Infantile terjadi
pada orang dewasa yang bersikap
seperti anak kecil, yang apabila
kemauannya tidak dituruti, akan
ngambek, marah, tidak mau makan,
dan sebagainya.
Sikap infantile ini ditunjukkan oleh
seorang raja yang berkuasa di Israel,
yaitu Ahab. Kala itu ia mengingini
kebun anggur Nabot yang terbentang
di dekat istananya. Padahal, sebagai
raja, ia tentu dikelilingi kekayaan
berlimpah. Sementara itu, Nabot
menolak untuk menjualnya karena
kebun anggur itu merupakan pusaka
nenek moyangnya (ay. 3). Sifat
kekanak-kanakan Ahab muncul. Ia
kecewa, marah, ngambek dan tidak
mau makan. Istrinya, Izebel, dengan
segera mengambil tindakan. Ia
mengupayakan pembunuhan atas
Nabot dan merampas kebun
anggurnya. Dengan senang Ahab
bangun untuk mengambil kebun itu
(ay. 16). Namun demikian, atas
tindakan mereka berdua, ada
konsekuensi yang harus mereka
terima. Hukuman Tuhan yang
dinyatakan melalui nabi Elia tidak
main-main dan mengerikan:
"Beginilah firman Tuhan: Di tempat
anjing telah menjilat darah Nabot, di
situ jugalah anjing akan menjilat
darahmu" (ay. 19).
Sifat infantile ini sebenarnya ada
dalam diri semua orang dewasa,
entah ia orang berpangkat dan
terkenal, entah ia orang biasa. Kita
perlu waspada, terlebih dengan
kedudukan yang memungkinkan kita
bertindak sewenang-wenang. Jangan
sampai muncul sikap kekanak-
kanakan. Kiranya Tuhan
mendewasakan kita, dari hari ke
hari.
Pesan : SYUKURILAH SEMUA YANG KITA
PUNYA
TANPA RASA IRI DAN DENGKI
PADA SESAMA.