@thebiblesay

Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Juni 2012

Hidup Dalam Kerajaan Sorga

Kisah Para Rasul 1:3

Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.

Jika seseorang menyampaikan sesuatu berulang-ulang, hal itu menandakan bahwa pesan tersebut sangat penting dan harus diingat. Ada sebuah pesan penting yang Yesus sampaikan berulang-ulang, bahkan hal ini menjadi pesan utamanya selama pelayanannya di bumi, yaitu Kerajaan Allah. Bahkan setelah kebangkitan-Nya, Yesus kembali menyampaikan hal yang sama.

Apakah Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga yang Yesus maksud? Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga bukan hanya tentang sebuah tempat yang akan kita tuju nanti di alam kekekalan. Roma 14:17 menyatakan “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus,” dan juga Rasul Paulus menjelaskan bahwa “Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa” (1 Kor 4:20).

Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah dalam kehidupan kita saat ini melalui kuasa Roh Kudus. Itu sebabnya mereka yang tidak menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat dikatakan tidak bisa masuk dalam Kerajaan Sorga. Karena tanpa Kristus kita tidak bisa diperdamaikan dengan Allah, dan jika demikian maka kita tidak bisa dibabtis dalam Roh Kudus.

Setelah manusia jatuh dalam dosa, manusia kehilangan pemerintahan Tuhan dalam hidupnya, sehingga tidak bisa memiliki hubungan yang intim lagi dengan Tuhan. Namun dengan penebusan Kristus, hubungan dengan Tuhan itu dipulihkan. Kemudian Tuhan mengutus  Roh Kudus untuk menjadi penolong dalam hidup kita, sehingga kita bisa hidup dalam kebenaran dan melakukan perintah-perintah-Nya, yaitu Firman Kebenaran itu.

Kita tidak bisa hidup dalam Kerajaan Allah jika tidak mentaati firman-Nya. Dalam 1 Yoh 5:3 dinyatakan bahwa “Perintah-perintah-Nya itu tidak berat”. Benarkah demikian? Benar, seperti yang dituliskan dalam ayat tersebut, jika kita melakukannya karena kasih kepada Allah, maka perintah-perintah-Nya itu tidak berat. Namun jika kita tidak mengasihi-Nya, maka perintah semudah apapun akan terasa sangat berat untuk kita lakukan.

Jadi, seperti yang Yesus serukan di awal-awal pelayanan-Nya, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Matius 4:17), pertobatan adalah pintu masuk ke dalam dimensi pemerintahan Tuhan. Setelah itu, buka hati untuk Roh Kudus masuk dan memerintah kehidupan kita, dan terus menjaga hubungan intim dengan Tuhan, maka percayalah bahwa Kerajaan Allah itu akan hadir dalam setiap aspek kehidupan Anda.

Kebaikan Hadirkan Kerajaan Allah

Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40)
Banyak dari kita yang apabila mendengar tentang pengajaran Kerajaan Allah langsung mengasosiasikannya dengan pengusiran roh-roh jahat, kesembuhan, dan membangkitkan orang-orang yang mati. Padahal, hal ini belumlah lengkap. Ada satu cara lain yang tertulis di dalam Alkitab mengenai bagaimana menghadirkan Kerajaan Allah.
Pada kitab Matius 25:40 disana jelas disebutkan bahwa Kerajaan Allah dapat hadir di muka bumi saat kita menolong orang yang membutuhkan atau berbuat kebaikan kepada mereka yang sangat mengalami kesulitan. Ini penting untuk digarisbawahi dan dimengerti oleh setiap kita. Mengapa? Karena dengan begini kita akan mengubah cara pandang kita dalam berbuat kebaikan bagi orang-orang yang membutuhkan.
Disadari atau tidak, karena seringnya gereja atau kelompok-kelompok Kristen mengadakan bakti sosial, saat kita melakukannya, kita melakukannya dengan semangat “senang atau suka saja”. Hal ini tentu tidaklah sehat karena jika kita melakukan dengan motif seperti itu maka apa bedanya apa yang kita lakukan dengan orang-orang lain yang belum percaya kepada Tuhan Yesus. Tidak ada bedanya bukan?
Kemudian juga jika menggunakan motif “senang atau suka saja” dalam berbuat baik kepada orang yang membutuhkan maka tidak ada hal yang akan terjadi di dalam hidup orang-orang yang kita bantu. Mereka sangat mungkin akan tetap seperti keadaan mereka dimana sebelum kita bantu.
Menjadi berbeda persoalannya jika saat kita mengulurkan tangan kita dengan membawa konsep “supaya Kerajaan Allah hadir di kehidupan mereka”. Apa yang kita kerjakan kepada orang-orang tersebut akan berdampak ke dalam kehidupan mereka, bahkan kita akan meninggalkan sesuatu yang ilahi di tengah-tengah mereka. Lalu sesuatu ilahi seperti apakah yang kita tinggalkan kepada mereka?
Roma 14:17 berbunyi bahwa Kerajaan Allah mengenai kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus. Jadi, dengan begitu yang kita tinggalkan kepada orang-orang yang kita berikan pertolongan sesungguhnya adalah ketiga hal tadi – kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus.
Tentu sangat sulit untuk mengetahui atau mendeteksi motif orang-orang yang melakukan perbuatan baik kepada masyarakat yang secara ekonomi begitu memprihatinkan. Namun, ini bukanlah persoalan yang besar. Mengapa ? Karena artikel ini ditujukan kepada Anda, bukan kepada orang yang tidak membaca pengajaran ini.
Akhir tulisan, penulis menyatakan selamat mempraktikan kebenaran firman Tuhan ini di dalam kehidupan Anda masing-masing. Tuhan Yesus memberkati.

Akrab Dengan Bapa

“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu” (Matius 6:9)
Yesus menjanjikan suatu hubungan yang baru dan akrab dengan-Nya dan dengan Bapa. Yesus berdoa, “Supaya mereka semua (semua orang percaya) menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita” (Yohanes 17:21).
Maksud Yesus bukanlah bahwa kita kehilangan identitas dan kesadaran kita di dalam Allah. Kita di dalam Allah dan Dia ada di dalam kita, tetapi kita masih merupakan dua kepribadian yang terpisah. Yesus sedang menjelaskan bahwa kita bisa mempunyai hubungan yang intim dengan Bapa.
Karena keintiman kita dengan Allah, Yesus mengatakan supaya kita menyebut-Nya “Bapa kami”.
Yesus bisa mengatakan kepada kita, “Apabila kamu berdoa katakan, ‘O Allah’.” Itu akan menunjukkan kuasa-Nya yang mutlak atas kita. Tetapi, Yesus ingin kita mengetahui sesuatu yang lebih daripada sekedar kuasa Allah yang dahsyat.
Yesus bisa mengatakan kepada kita, “Apabila kamu berdoa, katakan, ‘Tuhanku’.” Itu akan menunjukkan kedaulatannya atas kita. Namun, Yesus ingin kita mengetahui sesuatu yang lebih daripada sekedar penguasaan Allah atas kehidupan kita.
Yesus bisa mengatakan kepada kita, “Apabila kamu berdoa, katakan ‘Tuan Yang Terhormat’.” Pada zaman Yesus, istilah itu berarti “guru”, dan ini akan menunjukkan bimbingan Allah. Tetapi, Yesus ingin menunjukkan sesuatu yang lebih daripada sekedar cara Tuan/Guru mengarahkan dan membimbing kehidupan kita.
Yesus bisa mengatakan kepada kita, “Apabila kamu berdoa, katakan, ‘Gembalaku’.” Itu akan menunjukkan kepedulian-Nya terhadap kita. Namun, Yesus ingin menunjukkan bahwa Allah menawarkan perlindungan yang lebih besar daripada kepeduliaan seorang gembala kepada ternaknya.
Ketimbang istilah-istilah tersebut, Yesus memilih untuk memakai satu istilah yang berbicara tentang hubungan yang lebih akrab dengan Allah. Yesus mengatakan kepada kita untuk memanggil Allah, “Bapa kami”.
Ketika Anda mulai berdoa, Anda sama seperti seorang anak Raja yang masuk ke dalam hadirat bapanya. Para penjaga tidak menghalangi si anak, dan tak seorang pun dari para staf eksekutif yang mengganggu. Ia adalah anak Raja. Ia mempunyai jalan masuk langsung kepada raja karena mereka mempunyai hubungan. Raja adalah ayah si anak. Ketika Anda berdoaBapa Kami”, Anda tahu Anda adalah milik Allah, dan bahwa Dia adalah milik Anda. Anda berelasi.
Apakah hubungan Bapa dengan Anak ? Itu adalah suatu hubungan keintiman.
Bagaimanakah perasaan Anda ketika Anda akrab dengan seseorang...orangtua, pasangan hidup, teman, atau saudara lelaki atau saudara perempuan? Jika Anda intim, Anda merasa satu dengan mereka. Anda merasa bersama, Anda berpikir bersama, Anda mengasihi hal-hal yang sama dan Anda suka pergi bersama-sama. Keintiman adalah kesatuan.
Doa Bapa Kami menawarkan kepada Anda jenis kesatuan itu dengan Allah.

Potensi dan Tujuan Tuhan

Berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kejadian 1:26)
Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan suatu tujuan dan setiap ciptaan-Nya dilengkapi dengan potensi atau kemampuan untuk memenuhi tujuan tersebut. Seluruh alam bersaksi akan kebesaran-Nya ini, seperti terbukti dari fakta bahwa biji-biji akan selalu membawa benih pohonnya sendiri dalam dirinya yang sudah ditakdirkan untuk menghasilkan.
Dalam setiap burung ada kawanan burung, dalam setiap sapi ada kawanan sapi, dalam setiap ikan ada kawanan ikan , dalam setiap serigala ada kawanan serigala. Segala sesuatu berisi potensi untuk menjadi dirinya yang seutuhnya sesuai dengan tujuan penciptaannya.
Tetapi pelepasan dan pemaksimalan potensi tersebut tergantung pada lingkungan yang sesuai perkembangan dan pelepasannya. Sebagai contoh, walaupun sebutir benih berpotensi untuk berproduksi menjadi sebatang pohon dan kemudian menghasilkan buah banyak, potensi besar ini dapat diperkecil, dikendalikan, atau bahkan dihentikan oleh kondisi lingkungan yang tidak layak.
Jika benih tersebut ditempatkan dalam sebuah gerabah dari tanah liat atau batu, atau dalam unsur-unsur yang terpolusi atau beracun, potensinya yang besar menjadi tidak berguna dan tidak akan pernah sepenuhnya dimaksimalkan.
Pembatasan potensi ini tidak hanya merampok hak untuk memenuhi potensi nyata dari benih itu, namun juga merampok makanan burung-burung dan dahan pohon untuk sarang mereka, dan menjadi hambatan bagi manusia dalam mendapatkan kayu untuk membangun rumah, buah-buahan untuk dijadikan makanan, dan bahan bakar untuk perapian dan memasak.
Pada intinya, kehilangan potensi seperti ini, yang disebabkan tidak layaknya lingkungan, akan mengganggu sistem ekologi secara keseluruhan. Benih itu gagal untuk menghasilkan sebatang pohon, yang mencegah produksi oksigennya untuk memberikan kehidupan kepada manusia, yang kemudian tidak mampu memenuhi kehendak dan tujuan Tuhan dalam dunia ini.
Karena itu, apa pun usaha untuk membatasi, perlakuan kejam, penyalahgunaan, tekanan atau penindasan potensi dari segala sesuatu yang hidup, mempunyai pengaruh langsung pada tujuan dan kehendak Tuhan.
Bila melihat fakta, banyak dari antara umat manusia yang tidak pernah menemukan ataupun memanfaatkan potensi dahsyat yang ada dalam diri mereka. Kondisi tragis ini tak lain adalah hasil dari menyerahnya manusia pada kehidupan yang diatur oleh perbuatannya sendiri. Ketidakpedulian merupakan sumber terbesar dari tragedi ini.
Dalam kitab Perjanjian Lama, Nabi Hosea mengenali ketidakpedulian sebagai sumber utama perusakan diri pribadi, masyarakat, dan nasional. Saat menyebarkan penjelasan Tuhan tentang moral dan kebusukan masyarakat diantara bangsa-bangsa, ia menulis, “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah” (Hosea 4:6a). Implikasinya adalah bahwa kehancuran di banyak bidang kehidupan kita, baik pribadi maupun nasional, berhubungan dengan kurangnya pengetahuan.
Kenyataan ini sangat tepat dalam hubungannya dengan memaksimalkan potensi dalam diri kita. Ketidakpedulian seluruh umat manusia tentang nilai, penghargaan, dan besarnya potensi manusia menyebabkan tekanan yang dahsyat bagi harta karun kita yang paling berharga.
Oleh sebab itu, kita perlu mengenali siapakah diri kita – manusia dan untuk mendapatkan jawaban ini kita tidak dapat menemukannya di perpustakaan besar yang ada di lembaga-lembaga pendidikan kita atau pada jurnal-jurnal penelitian ilmiah kita. Anda dan saya hanya dapat menemukannya di dalam Alkitab.  
Kitab Kejadian, awalnya menyatakan dengan jelas bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk berkuasa atas dunia:
Berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa (memiliki dominion) atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (Kejadian 1:26)
Harap diperhatikan : Tuhan menciptakan semua manusia untuk berkuasa atas dunia, bukan sesama manusia. Karena itu, setiap manusia memiliki kemampuan dan potensi untuk berkuasa, mengatur, memerintah, dan mengelola dunia.
Kita semua diciptakan untuk melayani Tuhan sebagai rekan dalam mendominasi ciptaan-Nya, yang bertujuan untuk memanifestasikan sifat alami Tuhan dan Kerajaan Surga di bumi seperti di surga.
Yesus Kristus datang ke dunia untuk alasan ini : untuk memulihkan kita kembali ke Sang Pencipta/Allah Bapa melalui karya penebusan-Nya, sehingga kita dapat menemukan kembali tempat kita yang tepat dalam kehendak-Nya bagi penciptaan-Nya – bukan untuk menciptakan suatu agama. Karena itu, sangat mendesak bagi kita untuk generasi saat ini mengkomitmenkan diri sendiri, sumber daya kita, dan energi kita untuk menghancurkan ketidakpedulian dan kesalahan yang menyelimuti kebenaran yang berhubungan dengan umat manusia, mahkota ciptaan Tuhan.
Anda sangat berharga dan diperlukan dalam takdir ras manusia, sehingga Tuhan memilih turun ke bumi untuk menebus Anda menuju tujuan dan potensi sejati Anda. Untuk apa dan menjadi apa Anda dilahirkan menyebabkan Yesus Kristus datang untuk memberikan hidup-Nya bagi pendamaian Anda. Dunia memerlukan potensi Anda.

Sabtu, 12 Mei 2012

Andalkan Tuhan.

kadang hidup itu berjalan gak seperti yg kita inginkan atau kita mau. Yang terjadi malah yg gak kita inginkan bener gak? hemm apakah itu emang takdir? noo! itu semua rencana Tuhan yang mengijinkan ada something different di hidup kita.

Kalau semua berjalan menurut apa yg lo mau, lo gak akan merasakan kasih dan pertolongan Tuhan yg luar biasa. why? karena itu smua bisa terjadi ditengah2 goncangan hidup.
simple aja, misalnya pas lo dapet nilai ulangan jelek berulang kali. Sering kali lo bilang "yah Tuhan kenapa gue harus remed terus? padahal kan udh belajar :(" dan yg terjadi lo marah sama Tuhan. HEYY! you know what Tuhan itu lagi mendidik kamu! dari contoh itu, mungkin Tuhan mau lo itu lebih serius lagi dalam belajar dannn, always mengandalkan Tuhan. oiaa dan mengajarkan lo buat bisa mengendalikan diri dan gak terbawa emosi.

Anak muda jaman sekarang menganggap semuanya bisa diatasi dengan kekuatan sendiri.But kita ini cuma manusia dan manusia itu punya kelemahan. gak semua masalah bisa lo atasi tanpa bantuan Tuhan. kalo lo bersikeras andelin kekuatan sendiri, lo itu bakalan jatuhhh tuhh tuhh *eaa lebay.. tapi kalo lo andelin Tuhan yang kekuatanya super super super besaarrrr, lo gak bakalan rapuh with His mighty and loving hands, He will help you to pass the problem.


(Yeremia 17 :7) Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

(Amsal 3:5) Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.