@thebiblesay

Rabu, 28 Januari 2015

GEMBALA KREATIF

Read: Kejadian 30:25-43
“Dan kejujuranku akan
terbukti di kemudian hari,
apabila engkau datang
memeriksa upahku. (Kejadian
30:33)”
Bible in a year: Keluaran 32-34
Bekerja 20 tahun bagi Laban, Yakub
memperoleh empat istri dan 12 anak
laki-laki. Ia lalu bersedia bekerja lagi
demi membangun rumah tangganya
(ay. 30b). Kali ini ia boleh
menentukan upah sendiri (ay. 28).
Permintaan Yakub aneh: hanya
"domba hitam" dan "kambing belang-
belang" (ay. 32). Aneh? Ya-karena
jumlahnya sedikit! Umumnya domba
berwarna putih, sedangkan kambing
cokelat atau hitam. Laban langsung
menyanggupinya (ay. 34). Gilakah
Yakub? Atau, ia sedang merancang
pembalasan dendam atas "kasus
Lea" (29:23-25)? Ternyata tidak.
Meskipun Laban telah 10 kali
mencuranginya (31:7, 41), Yakub
sekarang bukanlah penipu,
melainkan pekerja keras yang jujur
dan takut Tuhan (30:33, 31:38-42).
Sebagai gembala kawakan, ia
tampaknya paham sebagian induk
ternaknya punya gen resesif yang,
dalam kondisi tertentu, akan muncul
pada anaknya sehingga
menghasilkan jenis yang berbeda.
Dengan pemahamannya akan
pengaruh penglihatan induk terhadap
kandungannya, ia berusaha
mempercepat munculnya anakan
yang diinginkannya itu melalui
pancingan dahan belang-belang
ketika kambing-domba itu kawin (ay.
37-38). Dan, sesuai dengan janji
dalam mimpinya (31:10-12), ia
berhasil! Upayanya mendapatkan
bibit unggul itu (ay. 41-42) adalah
kreativitasnya sebagai gembala,
bukan kecurangan, karena tak
termasuk dalam perjanjiannya
dengan Laban (ay. 32).
Ya, dalam hal ini, Yakub bukan
penipu. Kerja keras, keahlian,
kejujuran, dan berkat Tuhanlah yang
membuatnya berhasil, bukan
kelicikan dan kelihaiannya dalam
memperdaya Laban!

Pesan : BERKAT TUHAN MEMBANGKITKAN
KREATIVITAS DALAM BEKERJA,
MEMBUKA PELUANG MENUJU
KESUKSESAN.

Minggu, 25 Januari 2015

PENYESALAN TERBESAR

Read: Matius 27:1-10
“Pada waktu Yudas, yang
menyerahkan Dia, melihat
bahwa Yesus telah dijatuhi
hukuman mati, menyesallah
ia. Lalu ia mengembalikan
uang yang tiga puluh perak
itu kepada imam-imam kepala
dan tua-tua. (Matius 27:3)”
Bible in a year: Keluaran 23-25
Di Belgia pernah dilakukan survey
terhadap warga berusia 60 tahun
tentang penyesalan terbesar yang
mereka rasakan. Hasilnya? Ternyata
72% menyesal karena mengabaikan
waktu untuk bekerja dengan baik
pada masa muda; 67% karena
merasa salah memilih pekerjaan;
63% karena tidak mendidik anak
dengan benar; 58% karena kurang
berolahraga dan menjaga kesehatan;
dan 11% karena tidak memiliki
cukup banyak uang.
Ketika kita sadar telah mengambil
langkah yang keliru, kita menyesal.
Ketika kita sadar telah melakukan
hal yang salah, kita menyesal. Ketika
kita harus menerima konsekuensi
atas suatu perbuatan dosa, kita
menyesal. Setiap orang pernah
melakukan hal yang keliru dan
membuatnya menyesal. Tetapi, tidak
semua orang mampu belajar dari
kesalahan dan penyesalannya.
Banyak orang menyesali
perbuatannya, tetapi mereka tidak
segera memperbaiki pola hidupnya
yang salah. Akibatnya, seperti kata
pepatah, penyesalan selalu datang
terlambat.
Yudas juga menyesali kekeliruannya.
Sayang, ia memilih jalan bunuh diri
untuk membayar kesalahannya.
Tidak sedikit orang menunjukkan
penyesalannya dengan cara yang
salah. Sesungguhnya, penyesalan
adalah sebuah kesempatan dan
anugerah Allah! Masing-masing kita
tentu pernah membuat kesalahan dan
hal itu menimbulkan rasa bersalah di
dalam hati. Allah menghargai
penyesalan kita dan Dia sanggup
memakai kesalahan itu untuk
menyatakan rencana-Nya yang besar
dalam hidup kita. Anugerah-Nya
tetap tersedia untuk kita!

Pesan : PENYESALAN ADALAH
KESEMPATAN BAGI ALLAH UNTUK
MENCURAHKAN
ANUGERAH PENGAMPUNAN DAN
MEMULIHKAN HIDUP KITA.

Sabtu, 24 Januari 2015

TRADISI DI MEJA MAKAN

Read: Matius 18:15-20
“Sebab di mana dua atau tiga
orang berkumpul dalam
nama-Ku, di situ Aku ada di
tengah-tengah mereka.
(Matius 18:20 )”
Bible in a year: Keluaran 20-22
Tradisi ini kini semakin jarang
dilakukan: seluruh keluarga
berkumpul di meja makan untuk
makan bersama. Semua anggota
keluarga ditunggu kehadirannya
sebelum acara makan dimulai. Bagi
beberapa orang, tradisi bersama ini
bagaikan oase di tengah padang
gurun perjalanan hidup. Di meja
makan ini mereka bisa
menghilangkan kepenatan setelah
bekerja, menguatkan kembali kondisi
fisik yang melemah, dan bertatap
muka dengan sesama saudara. Meja
makan juga dipandang sebagai
tempat yang ideal untuk
menyelesaikan masalah keluarga
dengan kasih. Dan selama makan,
setiap anggota keluarga
berkesempatan menyampaikan isi
hatinya.
Yesus menegaskan pentingnya
kesatuan dan kesepakatan (ay. 19).
Dia berkata, jika dua orang
bersepakat meminta apa pun juga,
permintaan mereka itu akan
dikabulkan oleh Bapa yang di surga.
Hal ini dapat diterapkan dalam
kehidupan berkeluarga. Saat keluarga
sepakat berkumpul dalam nama
Tuhan, Dia hadir di tengah-tengah
keluarga itu. Jika kehadiran Tuhan
nyata dalam sebuah keluarga,
persoalan yang rumit pun akan
teratasi.
Bagi kita yang pernah
mengalaminya, kenangan makan
bersama itu, indahnya kebersamaan
dan hadirat Tuhan, pasti masih
membekas di hati. Betapa kehadiran
Tuhan dapat dirasakan begitu dekat
dan tangan-Nya terentang
memberkati setiap pribadi yang hadir
saat itu. Di tengah kesibukan hidup,
barangkali kita dapat meluangkan
waktu untuk melakukannya kembali
dan merayakan berkat Allah atas
keluarga kita.

Pesan : TRADISI MAKAN BERSAMA DAPAT
MENJADI OASE KASIH
DALAM PERJALANAN HIDUP
KELUARGA.

Jumat, 23 Januari 2015

DALAM NAMA YESUS

Read: Matius 26:36-46
“Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini
tidak mungkin lalu, kecuali
apabila Aku meminumnya,
jadilah kehendak-Mu! (Matius
26:42)”
Bible in a year: Keluaran 17-19
Tiap kali saya menyimak siaran "Doa
dan Kesembuhan" di radio, ada satu
hal yang selalu menyentak saya,
yaitu ketika si konselor mendoakan
kesembuhan pendengarnya. Ia
mengucapkan "Dalam nama Yesus",
kadang disertai perintah agar si
"pasien" meletakkan tangannya di
tempat yang sakit. Sering kali
penyakit para "pasien" itu tergolong
berat: gangguan jantung atau paru-
paru, bahkan gagal ginjal dan
kanker. Kadang saya berpikir, doa
semacam ini bisa menjadi suatu
pemaksaan kepada Tuhan agar
menyembuhkan si sakit seketika itu
juga. Bagaimana jadinya jika mereka
tidak sembuh juga?
Doa tidak lain adalah sarana
percakapan kita dengan Allah. Dalam
doa, kita sebagai anak berusaha
menyelaraskan kehendak kita dengan
kehendak-Nya sebagai Bapa.
Simaklah pergumulan antara
"kehendak Yesus" dan "kehendak
Bapa-Nya" dalam ayat 39 dan 42?
Sebagai anak, tentu saja kita boleh
minta sesuatu pada-Nya, dan Dia
tentu akan memenuhinya jika hal itu
sesuai kehendak-Nya. Tidaklah
bijaksana jika kita memaksakan
sesuatu yang bukan kehendak-Nya
atau yang belum waktunya Dia
berikan. Bukankah Dia yang paling
tahu yang terbaik bagi kita?
Bukankah Dia pula yang berdaulat
mengabulkan atau menolak
permohonan kita?
Karena itu, kita perlu lebih berhati-
hati menggunakan "Dalam nama
Yesus" dalam doa kita. Janganlah kita
menggunakannya sebagai sarana
untuk "memaksa" Tuhan, seolah-olah
nama-Nya adalah semacam jimat
atau mantra. Sebaliknya, kita
menyatakannya sebagai pengakuan
atas kedaulatan-Nya.

Pesan : DOA SEBENARNYA MERUPAKAN
PENGAKUAN
BAHWA DIA TAHU YANG TERBAIK
BAGI KITA.