@thebiblesay

Selasa, 13 Januari 2015

POTENSI KECIL

Read: Yohanes 6:1-15
“Di sini ada seorang anak
yang mempunyai lima roti
jelai dan dua ikan; tetapi apa
artinya itu untuk orang
sebanyak ini? (Yohanes 6:9)”
Bible in a year: Kejadian 37-39
Dalam kisah Yesus memberi makan
lima ribu orang, kita mendapatkan
pelajaran yang penting. Ternyata,
potensi sekecil apa pun dapat
bermanfaat apabila dipersembahkan
untuk pekerjaan Tuhan.
Ada dua orang murid yang disebut
namanya dalam kisah ini, yakni
Filipus dan Andreas. Ketika Tuhan
Yesus bertanya, "Di manakah kita
akan membeli roti, supaya mereka
dapat makan?", Filipus menjawab,
"Roti seharga dua ratus dinar tidak
akan cukup untuk mereka ini,
sekalipun masing-masing mendapat
sepotong kecil saja." Jawaban Filipus
ini mencerminkan sikapnya yang
membatasi diri dengan potensi yang
ada ketika menghadapi masalah.
Sedangkan Andreas, sebagaimana ia
pernah membawa Simon,
saudaranya, kepada Yesus, kali ini ia
membawa seorang anak yang
memiliki lima roti jelai dan dua ikan
kepada Yesus. Sekali lagi Andreas
berfungsi sebagai pengantara.
Bukankah ini langkah yang tepat?
Namun, sebagaimana Filipus,
Andreas juga mengecilkan arti
potensi yang ada, "Tetapi apa artinya
itu untuk orang sebanyak ini?"
Walaupun demikian kita mengetahui
akhir kisah ini, yakni bahwa
pemberian anak tersebut, di tangan
Yesus, menjadi berkat bagi lima ribu
orang. Bahkan tersisa dua belas
bakul. Potensi sekecil apa pun, di
tangan Yesus dapat menjadi berdaya
guna besar untuk pekerjaan Tuhan
bagi kesejahteraan sesama.
Jadi, jangan sekali-kali kita
meremehkan potensi seperti itu.
Letakkan di tangan Tuhan. Dia tidak
terbatasi oleh jumlah, dan Dia rindu
memberkati umat-Nya. Selanjutnya,
biarlah mukjizat-Nya terjadi.

Pesan : DALAM TANGAN TUHAN, HAL
YANG KECIL ITU BISA JADI BESAR,
SEBALIKNYA, TANPA TUHAN, HAL
YANG BESAR PUN BISA JADI
KECIL.

Senin, 12 Januari 2015

KETIDAKPASTIA N

Read: Amsal 3:1-6
“Percayalah kepada TUHAN
dengan segenap hatimu, dan
janganlah bersandar kepada
pengertianmu sendiri. (Amsal
3:5)”
Bible in a year: Kejadian 34-36
Dalam wawancara dengan psikolog
yang mendampingi para keluarga
korban kasus hilangnya pesawat
Malaysian Airlines MH370 pada
Maret 2014, disebutkan bahwa beban
utama keluarga adalah
ketidakpastian. Manusia tidak tahu
bagaimana harus bersikap dalam
ketidakpastian. Kebingungan akibat
ketidakpastian membuat emosi
sebagian orang menjadi tidak stabil.
Satu hari ia berpengharapan besar;
esoknya ia bisa frustrasi dan depresi.
Itulah yang mereka alami.
Sebagai makhluk yang terbatas,
ketidakpastian adalah suatu
keniscayaan hidup. Tentu kadarnya
berbeda-beda bagi tiap orang,
tergantung pada situasi yang sedang
dihadapi. Cara-cara orang
menyikapinya juga berlainan. Ada
yang memilih untuk
mengabaikannya, ada yang mencari
jaminan semu melalui uang atau
kekuasaan, dan ada yang menyerah
pada nasib.
Bagi orang percaya, Alkitab
mengajarkan untuk memercayakan
hidup kita kepada Tuhan. Sebab Dia
bukan hanya Tuhan yang mahakuasa
dan mahatahu, tapi juga mahabaik
dan mengasihi kita. Karena itu, kita
bisa beriman penuh kepada-Nya
tentang hidup dan masa depan kita.
Iman yang demikian memampukan
kita menjalani hidup yang berbuah.
Hidup kita tidak dikekang
kekhawatiran akan masa depan.
Hidup kita juga tidak lagi dipenuhi
dengan kebutuhan mengurusi diri
sendiri dan mencari jaminan semu
akan masa depan kita. Sebaliknya,
kita bisa mengisi hidup ini untuk
menjadi berkat bagi orang lain dan
membawa mereka menemukan
Tuhan yang memegang hidup kita.

Pesan : BANYAK HAL TAK KUPAHAMI
DALAM MASA MENJELANG, TAPI
T'RANG BAGIKU INI:
TANGAN TUHAN YANG PEGANG.

Minggu, 11 Januari 2015

MAKAN UNTUK HIDUP

Read: Kejadian 3:1-7, Matius 4:1-4
“Ada tertulis: Manusia hidup
bukan dari roti saja, tetapi
dari setiap firman yang
keluar dari mulut Allah.
(Matius 4:4)”
Bible in a year: Kejadian 31-33
Berapa banyak dari kita yang suka
pilih-pilih makanan? Bukan sekadar
memilih kandungan gizinya,
melainkan memilih berdasarkan
nilai gengsinya. Makan di tempat
yang mewah, berkelas, bahkan
meluangkan waktu dan anggaran
khusus demi mencoba menu tertentu.
Ada pula yang merasa puas jika telah
membagikan foto menu rumah
makan ternama di media sosial. Ada
orang yang menghabiskan banyak
waktu untuk urusan makan, seakan
makanan adalah hal terpenting untuk
dikejar dalam hidup ini. Padahal
makanan bersifat sementara.
Adam-Hawa dan Yesus mengalami
pergumulan serupa. Mereka dicobai
Iblis dengan iming-iming makanan.
Tetapi, pilihan mereka berbeda.
Adam dan Hawa memilih memenuhi
hasrat jasmani dengan memakan
buah yang dilarang Allah. Adapun
Yesus memilih taat kepada Bapa dan
melawan bujukan Iblis. Jika
diperhatikan, sebenarnya Yesus
sangat membutuhkan roti, sedangkan
Adam dan Hawa masih dapat
memakan buah yang lain. Yesus tidak
melakukannya karena Dia tak mau
tunduk kepada Iblis. Dia tetap fokus
pada kekekalan meski secara jasmani
Dia perlu makan.
Dari kisah Adam dan Yesus, ada dua
prinsip hidup yang dapat kita pilih.
Pertama, prinsip "hidup untuk
makan". Orang tipe ini akan
memanfaatkan hidupnya untuk
mencari kepuasan dengan
"makanan" (hal-hal fana).
Kesuksesan duniawi menjadi fokus
hidup mereka. Sedangkan prinsip
kedua adalah "makan untuk hidup".
Orang tipe ini berfokus kepada
Tuhan dan menggunakan "makanan"
sebagai sarana bersahabat dengan
Tuhan, Sang Hidup. Mana yang
menjadi prinsip hidup Anda?

Pesan : HIDUP UNTUK MAKAN MEMBUAT
KITA KEHILANGAN "HIDUP".
TETAPI, MAKAN UNTUK HIDUP
MEMBUAT KITA BEROLEH
"HIDUP".

Sabtu, 10 Januari 2015

BERDOA? SAYA BISA!

Kejadian 28-30
Tim visitasi mengunjungi seorang
nenek, anggota jemaat, yang sakit. Ia
tinggal sendirian, anak-anaknya
merantau ke kota-kota lain. Soal
makan sehari-hari, salah seorang
anaknya melanggankan catering
service. Saat mengunjungi si nenek,
salah seorang ibu anggota tim
melihat ada tumpukan piring dan
baju kotor di rumahnya. Selesai
berbincang akrab, dan saat hendak
pulang, salah satu anggota tim itu
bertanya kepadanya, "Oma, ada
yang perlu kami doakan?" Setelah
berpikir sejenak, ia menjawab, "Nak,
kalau berdoa saya bisa, tapi jika
kalian rela, tolong cucikan piring-
gelas dan baju-baju kotor itu."
Sering kali kita ini "omdo" atau
omong doang. Kasih kita berhenti
hanya sebatas kata-kata. Jangankan
tuntutan seberat "menyerahkan
nyawa kita untuk saudara-saudara
kita" seperti Kristus (ay. 16),
menolong orang lain saja kita jarang
sekali melakukannya. Alasan yang
kita berikan cukup masuk akal:
"Memenuhi kebutuhan dan
kepentingan diri sendiri saja masih
susah, masakan mau membantu
orang lain. Nantilah, kalau saya
sudah mampu, saya akan menolong
orang lain." Namun, ungkapan
"kalau saya mampu" menyiratkan
keengganan, karena kita tidak tahu
kapan kita merasa sudah mampu!
Hal pertama yang kita butuhkan
untuk menolong sesama adalah
kemauan, diiringi dengan memohon
pertolongan Tuhan agar Dia
memampukan. Sehingga, di dalam
Tuhan, kita memenuhi perintah
Yohanes, "... marilah kita mengasihi
bukan dengan perkataan atau
dengan lidah, tetapi dengan
perbuatan dan dalam kebenaran."

Pesan : PERKATAAN TAK AKAN MENJADI
TINDAKAN
JIKA TAK DISERTAI KEMAUAN
MEWUJUDKANNYA.