@thebiblesay

Kamis, 26 Februari 2015

CINTA SEJATI

Bacaan: Matius 1:18-25 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. (Matius 1:19)

Taylor Morris menginjak pemantik alat peledak sehingga kehilangan kedua kaki dan lengannya. Danielle Kelly, tunangannya, tetap setia kepada Morris dan mau menjadi istrinya. Dengan sabar ia merawat Morris. Di tengah dunia yang makin dipenuhi cinta semu, dan meninggalkan orang dengan penderitaan demikian, Kelly memilih tindakan ekstrem, yaitu terus mencintai Morris. Cinta ekstrem Kelly tecermin dalam foto-foto yang diunggah di internet dan menarik perhatian 2, 6 juta orang. Bisa dikatakan inilah cinta sejati. Cinta sejati Yusuf tidak sekadar menarik perhatian orang, tetapi juga memberi dampak pada umat manusia. Yusuf begitu mencintai Tuhan dan Maria. Cinta Yusuf pada Maria terbukti saat Maria hamil dan Yusuf tidak mau menuntutnya menurut hukum Yahudi yang berlaku. Ia menutupinya dan mau menceraikan Maria diam-diam. Cinta Yusuf pada Tuhan terbukti dengan caranya menyikapi kehamilan Maria, ketaatannya saat Tuhan memerintahkan memperistri Maria, dan kerelaannya membayar harga, antara lain menghadapi tuduhan amoral dari masyarakat dan tidak bersetubuh dengan Maria. Cinta yang besar pada Tuhan akan memampukan kita taat menjalani rencana dan kehendak-Nya dengan tulus dan sepenuh hati. Sebagaimana Yusuf, yang akhirnya menjadi sarana, bersama dengan Maria, bagi kelahiran Yesus. Cinta kepada Tuhan akan memampukan kita untuk mencintai orang lain-pasangan, orangtua, anak-anak, tetangga, dan sebagainya. Sudahkah kita bertekad untuk mencintai dengan cinta sejati dari Tuhan?

Pesannya :  CINTA YANG MENGUBAH DUNIA ADALAH CINTA YANG MELAMPAUI STANDAR DUNIA.

Yesus kebangkitan yg hidup

Ev. Yohanes 11: 25 – 26 Suatu ketika Maria dan Marta mengirim kabar kepada Yesus bahwa Lazarus sakit keras. Yesus tidak segera datang karena menurut Yesus penyakit itu tidak mematikan (Yoh. 11:3-4). Beberapa hari kemudian Yesus datang dan menjumpai Lazarus telah berbaring di kubur selama 4 hari (Yoh. 11:17). Kata Marta: Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, Lazarus tidak akan mati. Marta seolah-olah menyatakan bahwa Yesus sudah terlambat. Yesus tidak terlambat. Dia tahu waktu yang tepat. Marta percaya, Yesus pasti dapat melakukan sesuatu bila Ia meminta kepada Allah. Yesus berkata: Saudaramu akan bangkit (Yoh. 11:20-23). Apakah Marta percaya? Dia percaya tetapi dengan makna yang berbeda. Dia percaya Lazarus akan bangkit tetapi pada akhir zaman, bukan saat itu. Dia lupa bahwa bagi Yesus tidak ada yang mustahil. Yesus kemudian berkata: ”Akulah kebangkitan dan hidup; barang siapa percaya kepadaKu ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” Marta percaya. Akhirnya, Lazarus bangkit dari kematian (Yoh. 11:44). Yesus dalam nats mengarahkan kita agar berpikir tidak dalam konteks kehidupan jasmani. Secara jasmani semua orang termasuk kita pasti akan mati. Yesus memberikan arti yang melebihi arti jasmaniah. Yesus mengarahkan kita pada kehidupan yang akan datang yaitu kehidupan yang kekal. Yesus menjamin bahwa kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu. Kematian adalah awal kehidupan yang kekal karena di balik kematian ada kehidupan yang kekal. Hal itu hanya terjadi bila kita percaya kepada Yesus, mengakui Ia satu-satunya Juruselamat, dan melakukan kehendakNya. Kita harus mengingat hari kematian kita (memento mori) dan akan bangkit pada akhir zaman. Doa: Tuhan Yesus! Kami percaya bahwa Engkaulah kebangkitan dan hidup. Karena itu Tuhan berikanlah anugerahMu kepada kami yaitu kehidupan yang kekal. Amin. (WM)

Selasa, 24 Februari 2015

MENGANDALKAN KETAATAN KRISTUS

Bacaan: Matius 5:38-48 Akan tetapi, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita. (Roma 5:8) 

Ketika kita diminta mendonorkan darah, mungkinkah kita sekaligus mendonorkan ginjal? Ketika seseorang menuntut mobil kita, mungkinkan kita menyerahkan sekaligus rumah kita? Ketika seseorang membunuh anak kita, mungkinkah kita mengampuninya dan menjadikannya anak angkat? Itu beberapa skenario yang melintas dalam benak saya saat membaca bagian dari Khotbah di Bukit ini. Dalam rangkaian khotbah tersebut, saya merasa Yesus sedang menaikkan standar hukum Allah setinggi-tingginya. Dengan harapan, orang yang sungguh-sungguh hendak taat tersadar, tidak mungkin ia menjalaninya dengan kemampuan dirinya sebagai manusia. Kabar gembiranya, Yesus datang untuk menggenapi hukum itu bagi kita (Rm 10:4). Dalam nas hari ini, misalnya, Dia seperti orang yang menyerahkan pipi kirinya pada yang menampar pipi kanannya, orang yang menyerahkan jubah pada yang mengingini bajunya, dan orang yang berjalan sejauh dua mil ketika dipaksa berjalan sejauh satu mil. Itulah karya Kristus bagi kita! Dan, melalui ketaatan-Nya itu, Kristus menjadi pokok keselamatan bagi orang yang beriman. Jadi, pertanyaan kita bukan lagi: Mampukah saya menaati hukum Allah? Pertanyaannya adalah: Maukah saya beriman kepada Kristus Yesus dan menerima pembenaran-Nya? Maukah saya berhenti mengandalkan kemampuan diri dalam menaati hukum Allah, dan belajar mengandalkan ketaatan-Nya yang sempurna? Bersediakah saya mempersilakan Kristus menyatakan kehidupan-Nya di dalam dan melalui diri saya?

Pesannya :  KESELAMATAN BUKANLAH BERDASARKAN KETAATAN KITA, MELAINKAN BERDASARKAN KETAATAN KRISTUS YANG SEMPURNA.

Kamis, 12 Februari 2015

DIA TAK LUPA!

Bacaan: Kejadian 40 Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya. (Kejadian 40:23)

Adik saya gembira dua kali lipat: diterima di sekolah Akitab idaman dan ada orang yang bersedia menanggung biaya studinya. Ia mengikuti kuliah dengan penuh semangat, tapi hingga bulan pertama berlalu ternyata beasiswa yang dijanjikan itu belum muncul. Ah, mungkin beliau amat sibuk, pikirnya. Namun, bulan-bulan berikutnya ternyata tak ada perubahan. Konyolnya, ketika mereka berjumpa, orang itu sama sekali tak menyinggung soal beasiswa itu! Pupuslah harapannya. Akhirnya, sang kakak yang membiayai kuliahnya sampai selesai. Orang cenderung mudah berjanji, mudah pula melupakannya. Bukan hanya dalam kasus berat seperti yang dialami Yusuf, juga dalam hal-hal sepele. Dalam hal Yusuf, syukurlah, akhirnya kepala juru minuman itu ingat lagi padanya (lihat 41:9-13) sehingga Yusuf bisa menikmati kebebasannya lagi, dan mulai menapaki keberhasilannya sebagai tangan kanan Firaun. Nah, apakah Tuhan melupakan Yusuf? Tidak. Saat Yusuf masih menjadi pegawai Potifar, tercatat empat kali ia "disertai Tuhan" (lihat 39:2, 3, 21, dan 23). Tatkala bani Israel ditindas bangsa Mesir, Allah ingat janji-Nya pada nenek moyang mereka (Keluaran 2:24, 6:4b), dan Dia bertindak! (Simak kata kerja "membebaskan", "melepaskan", "menebus", "membawa", dan "memberikan", Kel 6:5-7). Perempuan bisa saja melupakan bayinya, tetapi Dia tidak pernah melupakannya (Yes 49:15). Kalau Dia seakan tidak segera menolong kita, itu karena "waktu-Nya" dan "waktu kita" berbeda (2 Pet 3:8), bukan?
Pesan : DIA SELALU MENDENGAR, DAN PASTI MENOLONG, SESUAI DENGAN WAKTU DAN KEBIJAKSANAAN-NYA.