@thebiblesay

Rabu, 30 Juli 2014

Filipi 4:13 “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”

Life is beautiful. Yang seringkali menjadi pertanyaan adalah, orang lain memiliki kekayaan dan hidup enak seakan tidak ada pergumulan, tapi mengapa anak-anak Tuhan harus mengalami banyak pergumulan, banyak masalah, sakit, dll? Itu semua bukan karna Tuhan jahat pada kita, namun karna Tuhan sangat mengasihi kita maka Tuhan memproses dan mendidik kita sedemikian rupa, karna Tuhan tidak mau anak-anakNya menjadi anak gampangan, Tuhan menginginkan anakNya menjadi anak-anak yang tahan uji. Bersyukur Tuhan mengijinkan setiap proses hidup kita terjadi, Tuhan sangat mengasihi kita. Ingatlah bahwa segala perkara dapat ditanggung dalam Dia, jika Tuhan memberi ujian, tetaplah bersandar padaNya karna Tuhan sendiri yang akan turun tangan untuk memberikan jalan keluar.

                Hidup ini terlalu indah bagi orang percaya, nikmatilah setiap apa yang Tuhan ijinkan terjadi. Dibalik ujian yang kita lewati, ada berkat Tuhan yang menanti dan kita akan melihat kemuliaan Tuhan dalam hidup kita. Terus berharap dan berserah pada Tuhan, Dia yang akan memberi kita kekuatan untuk melewati setiap ujian. Percayalah bahwa Tuhan selalu ada untuk menuntun dan menolong kita. Berdoa terus jangan pernah lelah, terus bersukacita dan beriman bahwa Tuhan sendiri yang akan turun tangan menyelesaikan setiap persoalan yang kita hadapi.

Senin, 28 Juli 2014

Mengusahakan Kesejahteraan Bangsa

Yeremia 29:1-14 Berdasarkan firman Tuhan yg terdpat dlm yeremia 29:7, ada 2 tanggung jjawab kita sbg org percaya yg hidup di indonesia ini. Pertama, kita harus mengusahakan kesejahteraan bangsa kita. Kesua, kita harus berdoa untuk bangsa kita. Berdoa untuk Indosnesia mungkin bisa kita lakukan, tapi untuk mengusahakan kesejahteraan bangsa sepertinya sebuah harapan yg muluk". Indonesia adalah negara dgn jmlh penduduk yg sangat besar, beragam, dan memiliki status sosial yg tdk merata. Indonesia masih di belenggu dn praktik korupsi, kemiskinan, kebodohan, dan jauh dr kata sejahtera. Kita menjadi pesimis, mungkinkah Indonesia bisa sejahtera? Dulu, kota Almolonga di Guatemala, Amerika Latin, adalah kota yg sangat miskin, penduduknya malas, & bnyk praktik imoralitas di kota itu. Gereja" di Almolonga memutuskan untuk bangkit demi bangsa. Mereka bersyafaay untuk kesejahteraan kota. Tak hanya sekadar berdoa, mereka juga mengambil tindakan untuk mengusahakan kesejahteraan kota tsb dgn bekerja yaitu dgn menanam sayur mayur. Keajaiban terjadi, tanaman mereka bertumbuh dgn sangat subur dan hasilnya sungguh mencengangkan. Betapa tidak, wortel di Almolonga besarnya sama dengan lengan org dewasa! Kota Almolonga berubah total! Tingkat pengangguran berkurang banyak karena mereka semua mulai bekerja sebagai petani. Tanag disana makin subur, rakyat makin makmur, dan banyak jiwa dimenangkan bagi Kristus! Jika Tuhan bisa mengubahkan Almolonga, Tuhan jg bs mengubah Indonesia! Sudah saatnya org Kristen menjadi berkat secara nyata. Jangan sampai gereja kita menjadi sedemikian megah, mewah, dan sejahtera namun kita melupakan tugas tanggung jawab kita untuk menciptakan Indonesia yg lebih maju, makmur & sejahtera. Rakyat Indonesua menantikan datangnya Yusuf, Musa, ataupun Daniel yg membawa kebebasan, kemajuan, dan kesejahteraan untuk bangsa Indonesia Tercinta. Amin...

Sabtu, 26 Juli 2014

Loveless


Baca : Yohanes 15:9-12

"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu." Yohanes 15:9

Sebuah animasi Jepang berkisah tentang kakak beradik. Si kakak punya nama lain "Beloved" yang artinya "yang tercinta", sedangkan si adik punya nama lain "Loveless" atau "tanpa cinta". Kedua bersaudara ini mendapat perlakuan beda dari ibu mereka. Beloved disayang dan sangat dibanggakan, tapi adiknya dimarahi dan diacuhkan. bagaimanapun dia berusaha supaya ibunya mau menerima dia, hasilnya selalu sia-sia. Akibatnya Loveless jadi anak yang keras, susah bergaul, dan selalu menutup diri.

Kita tidak bisa memaksa orang lain mengasihi kita. Ada cukup banyak orang yang menderita penyakit "tidak dikasihi" ini. Dan celakanya, orang yang tidak pernah merasakan kasih pada akhirnya juga tidak akan mampu mengasihi orang lain, apalagi melakukan hal-hal yang didasari dengan kasih. Mungkin kamu kenal dengan orang-orang yang hatinya keras seperti Loveless itu. Mereka cukup menyebalkan dan susah diajak bergaul, tapi itu dikarenakan ada sesuatu yang kosong di hati mereka.

Syukurlah Tuhan sudah memberikan obat penawarnya, yaitu kasih dari Tuhan sendiri. Kita tidak perlu membelinya, dan tentu saja tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkannya. Perhatikan kata "telah" di ayat pokok hari ini. Bukankah itu artinya kasih itu bukan karena apa yang kita lakukan, tetapi memang  dari awal Tuhan sudah mengasihi kita? Yang dia mau untuk kita lakukan sekarang hanya tinggal dalam KasihNya itu, supaya sukacita kita penuh dan kita pun bisa mengasihi orang lain.

Mungkin ada diantara kalian yang sangat mengharapkan kasih sayang dari orangtua, sahabat atau seseorang yang special, tapi hal itu tidak terwujud. Sedih dan sakit memang. Tapi jangan hanya fokus ke sana. Lihat sekelilingmu, masih ada begitu banyak orang yang peduli terhadap kita. Apakah semua itu tidak ada artinya? Dan seandainya pun menurutmu di dunia ini tidak ada yang sayang terhadap kamu, tenanglah masih ada kasih dari Tuhan Yesus! KasihNya sendiri saja pun sudah cukup untuk kita menutup semua lubang di hatimu yang kosong. Jadi jangan sampai kita menutup diri hanya karena gagal mendapatkan cinta manusia.    
MASALAH BERAT: Seperti Terlilit Tali Maut
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Juli 2014

Baca:  Mazmur 116:1-19

"Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan."  Mazmur 116:3

Topik hari ini adalah gambaran tentang seseorang yang sedang berada dalam pergumulan berat karena beban dan masalah yang menimpa.  Seperti inilah kondisi yang dialami oleh Daud ketika hidupnya terus berada dalam ancaman dan marabahaya oleh karena Saul yang tak pernah berhenti mengejar dan hendak membunuhnya.  "Tali-tali maut telah meliliti aku, dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku, tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku."  (Mazmur 18:5-6).  Dalam keadaan tertekan dan terhimpit tak ada yang bisa dilakukan Daud selain  "...berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya."  (Mazmur 18:7).

     Dalam keadaan demikian banyak orang memiliki kecenderungan untuk berputus asa, frustasi, stres, bahkan tidak sedikit yang kehilangan akal sehatnya sehingga tanpa berpikir panjang mereka pun berbuat nekat dengan mengakhiri hidupnya.  Ada pula yang berusaha lari dari masalah dengan menjerumuskan diri kepada hal-hal yang negarif:  terlibat obat-obat terlarang,  'dugem', pergaulan bebas dan sebagainya.  Tidak jarang juga mereka berani marah dan menyalahkan Tuhan atas segala sesuatu yang menimpa hidupnya, sepeerti yang diperbuat oleh isteri Ayub.  Ketika tidak tahan dengan penderitaan dan masalah yang datang secara bertubi-tubi menimpa keluarga dan suaminya, isteri Ayub berkata,  "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!"  (Ayub 2:9).

     Inilah reaksi alamiah manusia pada umumnya!  Secara manusia Ayub punya banyak alasan untuk mengeluh, kecewa, putus asa atau pun menyalahkan Tuhan walaupun Alkitab menyatakan bahwa Ayub adalah orang yang  "...saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan."  (Ayub 1:1).  Seluruh harta bendanya ludes, kesepuluh anaknya mati dan Ayub pun harus menderita sakit yang sangat parah.  "...dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya."  (Ayub 2:7).  Saat tertimpa masalah berat manusia cenderung putus asa, menyalahkan Tuhan!

Tuhan mengijinkan penderitaan melanda hidup Ayub untuk memprosesnya.