@thebiblesay

Rabu, 29 Agustus 2012

Pengorbanan Seorang Ibu

Di suatu desa, ada seorang ibu yang sudah tua, dia hidup berdua dengan anak lelaki satu-satunya.
Suaminya sudah lama meninggal karena sakit.
Sang Ibu sering sekali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya.
Adapun anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam, dan banyak kelakuan lainnya.
Yang membuat si Ibu sering menangis adalah meratapi nasib masa depan anaknya yang malang.
Meskipun hidup anaknya dipenuhi oleh kejahatan, ibu tua itu selalu berdoa kepada Tuhan.
"Tuhan, tolong sadarkan anak yang kusayangi supaya ia tidak berbuat dosa lebih banyak lagi, aku sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati." Doa si Ibu 
Namun semakin lama kehidupan sang Anak semakin larut dalam perbuatan jahatnya.
Sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang telah dilakukannya.
Suatu hari kembali ia mencuri di sebuah rumah penduduk desa.
Namun perbuatannya dipergoki oleh warga dan iapun tertangkap.
Kemudian ia dibawa ke hadapan Raja untuk diadili sesuai dengan kebiasaan di kerajaan tersebut.
Setelah ditimbang berdasarkan seringnya kejahatan yang dilakukannya, maka tanpa ampun lagi si Anak dijatuhi hukuman pancung.
Pengumuman hukuman tersebut disebarkan ke seluruh desa.
Hukuman pancung akan dilakukan keesokan harinya di depan rakyat tepat pada saat lonceng gereja dibunyikan menandakan pukul enam pagi.
Berita itu sampai juga ke telinga sang Ibu. Dia menangis meratapi anak yang sangat dikasihinya.
Sembari berlutut dia berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, ampunilah anak hamba. Jangan sampai dia menerima hukuman tersebut, ampunilah dia, tolong selamatkan dia"
Dengan tertatih-tatih sang Ibu kemudian mendatangi Raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan.
Tapi keputusan sang Raja sudah bulat, si Anak tetap harus menjalani hukumannya.
Dengan hati yang hancur si Ibu kembali ke rumah.
Karena kelelahan dia tertidur dan bermimpi bertemu dengan Tuhan.
Keesokan harinya di tempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong datang untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut.
Sang Algojo sudah siap dengan pancungnya, dan si Anak tadi sudah pasrah menantikan saat ajal menjemputnya.
Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua. Tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya.
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan, lonceng gereja tidak juga terdengar berdentang.
Suasana mulai berisik. Sudah lima menit terlewati dari batas waktu yang seharusnya.
Akhirnya didatangilah petugas yang bertugas membunyikan lonceng gereja.
Dia juga mengaku heran, karena sudah sedari tadi dia menarik lonceng tapi suara dentangnya tidak terdengar.
Ketika mereka sedang terheran-heran karena keanehan yang sedang terjadi, tiba-tiba.....
Tiba-tiba dari tali yang dipegang oleh penjaga gereja yang biasa membunyikan lonceng itu mengalir darah.
Darah tersebut datangnya dari atas, dari tempat di mana lonceng diikat.
Seluruh rakyat pun mulai berkumpul menyaksikan keanehan tersebut dan orangpun diutus untuk naik ke atas dan menyelidiki sumber darah itu.
Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemui tubuh sang ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah.
Dia memeluk bandul di dalam lonceng yg mengakibatkan lonceng tidak berbunyi dan sebagai gantinya, kepalanya yg terbentur ke dinding lonceng.
Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata.
Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya.
Ternyata malam sebelumnya si Ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng tersebut.
Serta dia memeluk besi di dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung yang akan dijalani anaknya.
TAMAT






Belajar Untuk Menerima Kekurangan Orang Lain

Ada seorang Ibu yang sangat gembira ketika menerima telegram dari anaknya yang telah bertahun-tahun menghilang. Apalagi ia adalah anak satu-satunya.
Maklumlah anak tersebut pergi ditugaskan perang ke Vietnam pada 4 tahun yang lampau.
Sejak 3 tahun yang terakhir orang tuanya tidak pernah menerima kabar lagi dari putera tunggalnya tersebut.
Sehingga diduga bahwa anaknya gugur dimedan perang.
Dalam telegram tersebut tercantum bahwa anaknya akan pulang besok.
Esok harinya telah disiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan putera tunggal kesayangannya.
Bahkan pada malam harinya akan diadakan pesta khusus untuk dia, dimana sluruh anggota keluarga maupun rekan2 bisnis dari suaminya diundang semua.
Maklumlah suaminya adalah Direktur Bank Besar yang terkenal diseluruh ibukota.
Siang harinya si Ibu menerima telepon dari anaknya yang sudah berada di airport.

Si Anak: “Bu bolehkah saya membawa kawan baik saya?”

Ibu: “Oh sudah tentu, rumah kita cukup besar dan kamarpun cukup banyak, bawa saja, jangan segan-segan bawalah!”

Si Anak: “Tetapi kawan saya adalah seorang cacat, karena korban perang di Vietnam.”

Ibu: “……oooh tidak jadi masalah, bolehkah saya tahu, bagian mana yang cacat?” – nada suaranya sudah agak menurun.

Si Anak: “Ia kehilangan tangan kanan dan kedua kakinya!”

Si Ibu dgn nada agak terpaksa, karena tidak mau mengecewakan anaknya: “Asal hanya untuk beberapa hari saja, saya kira tidak jadi masalah.”

Si Anak: "Tetapi masih ada satu hal lagi yang harus saya ceritakan sama Ibu"

Si Ibu: "apa itu?"

Si anak: "Kawan saya itu wajahnya juga rusak.. begitu juga kulitnya, karena sebagian besar hangus terbakar. Maklumlah pada saat ia mau menolong kawannya ia menginjak ranjau.
sehingga bukan tangan dan kakinya saja yang hancur melainkan seluruh wajah dan tubuhnya turut terbakar!"

Si Ibu dengan nada kecewa dan kesal: “Nak, lain kali saja kawanmu itu diundang ke rumah kita, untuk sementara suruh saja tinggal di hotel. Kalau perlu biar ibu yang bayar nanti biaya penginapannya.."

Si Anak: "Tetap ia adalah kawan baik saya Bu, saya tidak ingin pisah dari dia!”

Si Ibu: “Coba renungkan nak, ayah kamu adalah seorang konglomerat yang ternama dan kita sering kedatangan tamu para pejabat tinggi. Apalagi nanti malam kita akan mengadakan perjamuan malam bahkan akan dihadiri oleh seorang menteri, apa kata mereka apabila mereka nanti melihat seorang anak dengan tubuh yang cacat dan wajah yang rusak. Bagaimana pandangan umum dan bagaimana lingkungan bisa menerima kita nanti? Apakah tidak akan menurunkan martabat kita bahkan jangan-jangan nanti bisa merusak citra binis usaha dari ayahmu nanti.”  

Tanpa ada jawaban lebih lanjut dari anaknya telepon diputuskan dan ditutup.
Orang tua dari kedua anak tersebut maupun para tamu menunggu hingga jauh malam ternyata anak tersebut tidak pulang. Ibunya mengira anaknya marah, karena tersinggung, disebabkan temannya tidak boleh datang berkunjung ke rumah mereka.
Jam tiga subuh pagi, mereka mendapat telepon dari rumah sakit, agar mereka segera datang ke sana.
Mereka dipanggil karena harus mengidetifitaskan mayat dari orang yang bunuh diri.
Mayat dari seorang pemuda bekas tentara Vietnam, yang telah kehilangan tangan dan kedua kakinya dan wajahnyapun telah rusak karena kebakar.
Tadinya mereka mengira bahwa itu adalah tubuh dari teman anaknya.
Tetapi kenyataannya, pemuda tersebut adalah anaknya sendiri!
Untuk membela nama dan status akhirnya mereka kehilangan putera tunggalnya!
TAMAT

Di kalangan orang Israel selalu akan terdapat beberapa orang yang miskin dan berkekurangan. Sebab itu saya memerintahkan kamu untuk bermurah hati kepada mereka. (Ulangan 15:11)

Perintah baru Kuberikan kepadamu: Kasihilah satu sama lain. Sama seperti Aku mengasihi kalian, begitu juga kalian harus saling mengasihi. (Yohanes 13:34)









Selasa, 28 Agustus 2012

Iman tanpa Perbuatan adalah Mati

Pada suatu malam yang sangat dingin, seorang pemuda duduk di dekat perapian dirumahnya untuk menghangatkan badan.
Saat pandangannya menatap jendela rumahnya, dilihatnya seorang kakek sedang berjalan ditengah salju yang putih.
Sang Pemuda kemudian berpikir, “Ah Malangnya kakek itu, dia harus berjalan ditengah badai salju seperti ini. Baiklah aku akan mendoakan dia saja agar dapat tempat berteduh.”
Pemuda itu lalu berdoa kepada Tuhan...
“Tuhan bantulah agar orang tua di depan rumahku ini mendapatkan tempat untuk berteduh. Kasihan Tuhan dia kedinginan.”
Ketika si pemuda mengakhiri doanya dilihatnya sang kakek berjalan mendekati rumahnya.
Diapun sempat mendengar suara rintihan sang kakek yang kedinginan ketika sang kakek bersandar di dekat jendela rumahnya.
Mendengar itu sang pemuda berdoa lagi kepada Tuhan....
“Tuhan lihatlah sang kakek di luar rumah itu. Kasihan sekali dia Tuhan, biarlah engkau membantunya agar dia tidak kedinginan lagi. Bantulah agar dia mendapatkan tempat berteduh yang hangat.” Setelah itu si pemuda pun tidur lelap.
Keesokan harinya si pemuda terbangun karena suara gaduh masyarakat sekitarnya.
Dia pun keluar rumah dan menemukan sang kakek telah meninggal bersandar di dekat jendela rumahnya.
Si pemuda kemudian berdoa lagi kepada Tuhan.
“Tuhan mengapa engkau membiarkan kakek itu meninggal kedinginan padahal aku sudah mendoakannya agar dia selamat.”
Malamnya, ketika pemuda itu sedang tidur. Dia bermimpi bertemu dengan Tuhan, lalu Tuhan menjawab doa pemoda itu.
“Aku mendengar doamu hai pemuda. Aku sudah membimbing kakek itu agar mendekati rumahmu. Akan tetapi engkau tak menghiraukannya bahkan ketika kakek itu merintih di depan jendela rumahmu.”

TAMAT

Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan?... (Yakobus 2:14)

Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. -Yakobus 2 : 17-

Jumat, 24 Agustus 2012

Apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai

Pada suatu hari ada seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan.
Tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. "Tolongggg....! Tolongggg!!!!"
Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengan dia sedang bergumul dengan lumpur, semakin bergerak malah semakin dalam ia terperosok.
Pemuda yang pertama tadi hendak sekuat tenaga memberikan pertolongannya, dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat diselamatkan.
Pemuda yang pertama memapah pemuda yang terperosok ini pulang ke rumahnya.
Ternyata rumah si pemuda kedua sangat bagus, besar, megah, dan mewah.
Ayah pemuda yang terperosok ini sangat berterimakasih atas pertolongan yang diberikan kepada anaknya, dan hendak memberikan uang.
Tetapi pemuda yang pertama ini menolak pemberian tersebut.
Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang berada dalam kesusahan.
Sejak kejadian ini mereka menjalin persahabatan.
Si pemuda pertama adalah seorang yang miskin, sedangkan si pemuda kedua adalah bangsawan yang kaya raya.
Si pemuda yang miskin ini mempunyai cita-cita untuk menjadi dokter, namun ia tidak mempunyai biaya untuk kuliah.
Tetapi, ada seorang yang murah hati, yaitu ayah dari pemuda bangsawan.
Ia memberi beasiswa sampai akhirnya pemuda pertama itu meraih gelar dokter.
Nama pemuda yang. Menjadi dokter itu adalah Alexander Fleming. Fleming itu adalah orang yang menemukan obat penisilin.
Si pemuda bangsawan yang tadi masuk dinas militer dan ikut dalam suatu tugas ke medan perang.
Namun sayang, Dia terluka parah sehingga menyebabkan demam yang sangat tinggi karena infeksi.
Pada waktu itu belum ada obat untuk infeksi serupa itu.
Para dokter mendengar tentang penisilin penemuan Dokter Fleming & mereka menyuntik pemuda ini dgn penisilin yg merupakan obat penemuan baru.
Berangsur-angsur demam itu reda dan si pemuda akhirnya sembuh!
nama pemuda kedua ini adalah Winston Churchil, seorang Perdana Menteri Inggris.
TAMAT

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. (Galatia 6:7)

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. (galatia 6:9)